Sabtu, 26 Januari 2013

Makalah Tawuran Antar Pelajar


Mohon maaf apabila ada yang tidak sesuai atau yang tidak menyenangkan dalam postingan ini ><


KATA PENGANTAR

            Puji syukur kami panjatkan kehadirat  ALLAH SWT karena atas rahmat dan karunia-Nyalah sehingga kami dapat menyelesaikan penulisan MAKALAH PENYIMPANGAN SOSIAL (TAWURAN)
            Kami menulis dan menyusun makalah ini dalam rangka menyelesaikan tugas, dan juga untuk mengetahui penyimpangan social apa saja yang sering terjadi di masyarakat, dan ternyata tawuran antar pelajar adalah salah satunya. Oleh karena itulah kami menyusun makalah ini  dengan pembahasan tentang penyimpangan social yang sering terjadi di masyarakat terutama lebih jauh tentang tawuran antar pelajar yang sudah sering sekali terjadi di lingkungan sekolah maupun lingkungan masyarakat umum.
            Dalam penulisan makalah ini kami banyak mengalami kesulitan namun atas bantuan dan bimbingan serta motifasi yang tiada hentinya disertai harapan yang optimis dan kuat dari teman-teman semuanya serta keluarga kami dan guru pembimbing yang mengarahkan kami sehingga makalah ini dapat terselesaikan tepat waktu.
Kami menyadari sepenuhnya bahwa penulisan makalah ini sangatlah masih kurang sempurna, baik materi dan penyusunannya. Oleh karna itu, kritik dan saran yang membangun dari kawan-kawan sangat kami harapkan.
           
                                                                                    KENDARI, 25 Mei 2011














DAFTAR ISI
Kata pengantar…………………………………………………………………………………… i
Daftar isi   ……………………………………………………………………………………….. ii
BAB I PENDAHULUAN
1.      Latar belakang………………………………………………………………………..1
2.      Perumusan masalah…………………………………………………………………..1
3.      Tujuan penulisan………………………………………………………………….......1
4.      Manfaat……………………………………………………………………………… 1
BAB II  PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN
1.      Pengertian  penyimpangan social…………………………………………………….2
2.      Jenis-jenis perilaku menyimpang
a.       Penyimpangan Individual (individual deviation)………………………………...2
b.      Penyimpangan Bersama-Sama / Kolektif (group     deviation)………………….3
3.       Tawuran antar Pelajar………………………………………………………………..3
4.      Faktor –faktor yang menyebabkan terjadinya tawuran………………………………4
5.      Dampak atau akibat dari tawuran………………………………………………….... 5
6.      Upaya pencegahan perilaku menyimpang (tawuran)…………………………………5
BAB III PENUTUP
Kesimpulan dan Saran ……………………………….……………………………… ….6
Daftar pustaka…………………………………………………………………………… 7



 
                                                                 BAB I
                                                         PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Ilmu Sosiologi merupakan salah satu ilmu yang mempelajari tentang masyarakat. Ilmu ini mempelajari tentang kehidupan bermasyarakat yang terjadi melalui proses sosialisasi. Proses sosialisasi tersebut ada bermacam-macam ada yang bersifat negative dan ada pula yang positif.
Proses sosialisasi yang tidak sempurna atau negative disebut dengan Penyimpangan social. Penyimpangan social juga terdiri atas  berbagai bentuk ada yang berbentuk individu dan ada pula yang berbentuk kelompok. Salah satu dari penyimpangan social berbentuk kelompok adalah tawuran, tawuran yang sering kali terjadi di antara para pelajar yang seharusnya menjadi impian dan harapan bangsa tapi mereka malah melakukan perkelahian secara bergerombol yang sama sekali tidak memiliki guna.
Oleh karena itu marilah kita disini membahas apa saja yang menyebabkan terjdinya tawuran di kalangan pelajar itu sendiri  dan pengertian dari penyimpangan social itu sendiri.

B.     Permasalahan
*      Apakah yang dimaksud dengan penyimpangan sosial?
*      Apa saja bentuk dan contoh dari perilaku yang menyimpang?
*      Bagaimana solusi untuk mencegah terjadinya perilaku menyimpang dalam hal ini yaitu tawuran antar pelajar?


C.     Tujuan
*      Untuk mengetahui Pengertian dari penyimpangan sosial
*      Untuk mengetahui bentuk-bentuk serta contoh dari perilaku yang termasuk dalam penyimpangan sosial
*      Untuk mengetahui  bagaimana cara agar kita dapat terhindar dari perilaku yang menyimpang


D.    Manfaat
*      Dapat  dijadikan salah satu landasan informasi bagi teman-teman sekalian mengenai arti, bentuk, serta contoh dari perilaku yang termasuk dalam perilaku yang menyimpang
*      Dapat mengurangi kemungkinan terjadinya perilaku menyimpang seperti tawuran misalnya karena hal itu sama sekali tiada guna atau tidak berguna.
*      Dapat memberitahukan kepada teman-teman sekalian mengenai faktor dan  dampak dari perilaku menyimpang(tawuran)



     


BAB II
      PEMBAHASAN




1.      Pengertian  penyimpangan sosial

*      Penyimpangan sosial adalah suatu prilakuyang tidak sesuai dengan aturan-aturan yang berlaku di masyarakat
*      Menurut Robert M. Z. Lawang penyimpangan perilaku adalah semua tindakan yang menyimpang dari norma yang berlaku dalam sistem sosial dan menimbulkan usaha dari mereka yang berwenang dalam sitem itu untuk memperbaiki perilaku menyimpang.
*      Menurut James W. Van Der Zanden perilaku menyimpang yaitu perilaku yang bagi sebagian orang dianggap sebagai sesuatu yang tercela dan di luar batas toleransi.



2.      Jenis-jenis perilaku menyimpang

a.       Penyimpangan Individual (individual deviation)
Penyimpangan individual atau personal adalah suatu perilaku pada seseorang dengan melakukan pelanggaran terhadap suatu norma pada kebudayaan yang telah mapan akibat sikap perilaku yang jahat atau terjadinya gangguan jiwa pada seseorang.

Macam-macam bentuk penyimpangan individual antara lain:

*      Penyalahgunaan Narkoba.
*      Pelacuran.
*      Penyimpangan seksual (homo, lesbian, biseksual,  pedofil, sodomi, zina, seks bebas, transeksual).
*      Tindak Kriminal / Kejahatan (perampokan, pencurian,    pembunuhan, pengrusakan pemerkosaan, dan lain sebagainya).
*      Gaya Hidup (wanita bepakaian minimalis di tempat umum,
     pria beranting, suka berbohong, dsb).











b.      Penyimpangan Bersama-Sama / Kolektif (group  deviation)                            Penyimpangan Kolektif adalah suatu perilaku yang   menyimpang yang dilakukan oleh kelompok orang secara bersama-sama dengan melanggar norma-norma yang berlaku dalam masyarakat sehingga menimbulkan keresahan, ketidakamanan, ketidaknyamanan serta tindak kriminalitas lainnya.


Macam-macam bentuk penyimpangan kelompok  antara lain:

*      Tindak Kenakalan
*      Tawuran/ perkelahian antar kelompok pelajar
*      Tindak Kejahatan Berkelompok / Komplotan
*      Penyimpangan Budaya

3.      Tawuran antar Pelajar

“Tawuran” dalam kamus bahasa Indonesia dapat diartikan sebagai perkelahian yang meliputi banyak orang. Sedangkan “pelajar” adalah seorang manusia yang belajar. Sehingga apabila kita menarik garis besarnya yaitu perkelahian antar banyak orang yang tugas pelakunya adalah manusia yang sedang belajar. Ironis memang orang yang sedang belajar melakukan perkelahian, namun itu kenyataan yang terjadi.


                                              
                                                      



4.      Faktor –faktor yang menyebabkan terjadinya tawuran

*      Faktor internal.
Remaja yang terlibat perkelahian biasanya kurang mampu melakukan adaptasi pada situasi lingkungan yang kompleks. Kompleks di sini berarti adanya keanekaragaman pandangan, budaya, tingkat ekonomi, dan semua rangsang dari lingkungan yang makin lama makin beragam dan banyak. Situasi ini biasanya menimbulkan tekanan pada setiap orang. Tapi pada remaja yang terlibat perkelahian, mereka kurang mampu untuk mengatasi, apalagi memanfaatkan situasi itu untuk pengembangan dirinya.
Mereka biasanya mudah putus asa, cepat melarikan diri dari
masalah, menyalahkan orang / pihak lain pada setiap masalahnya, dan memilih menggunakan cara tersingkat untuk memecahkan masalah. Pada remaja yang sering berkelahi, ditemukan bahwa mereka mengalami konflik batin, mudah frustrasi, memiliki emosi yang labil, tidak peka terhadap perasaan orang lain, dan memiliki perasaan rendah diri yang kuat. Mereka biasanya sangat membutuhkan pengakuan.

*       Faktor keluarga.
Rumah tangga yang dipenuhi kekerasan (entah antar orang tua atau pada anaknya) jelas berdampak pada anak. Anak, ketika meningkat remaja, belajar bahwa kekerasan adalah bagian dari dirinya, sehingga adalah hal yang wajar kalau melakukan kekerasan yang sama. Sebaliknya, orang tua yang terlalu melindungi anaknya, ketika remaja akan tumbuh sebagai individu yang tidak mandiri dan tidak berani mengembangkan identitasnya yang unik. Begitu bergabung dengan teman-temannya, banyak anak akan menyerahkan dirinya secara total terhadap kelompoknya sebagai bagian dari identitas yang dibangunnya. Selain itu suasana keluarga yang menimbulkan rasa tidak aman dan tidak menyenangkan serta hubungan keluarga yang kurang baik dapat menimbulkan bahaya psikologis bagi setiap usia terutama pada masa remaja. Menurut Hirschi (dalam Mussen dkk, 1994)
Berdasarkan hasil penelitian ditemukan bahwa salah satu penyebab kenakalan remaja dikarenakan tidak berfungsinya orang tua sebagai figure teladan yang baik bagi anak (hawari, 1997). Sehingga peran besar keluarga dituntut untuk memberikan contoh yang baik agar anak-anak tidak mencari perilaku menyimpang seperti tawuran pelajar.

*       Faktor sekolah.
Sekolah pertama-tama bukan dipandang sebagai lembaga yang harus mendidik siswanya menjadi sesuatu. Tetapi sekolah terlebih dahulu harus dinilai dari kualitas pengajarannya. Karena itu, lingkungan sekolah yang tidak merangsang siswanya untuk belajar (misalnya suasana kelas yang monoton, peraturan yang tidak relevan dengan pengajaran, tidak adanya fasilitas praktikum, dsb.) akan menyebabkan siswa lebih senang melakukan kegiatan di luar sekolah bersama teman-temannya. Setelah itu masalah pendidikan, di mana guru jelas memainkan peranan paling penting. Sayangnya guru lebih berperan sebagai penghukum dan pelaksana aturan, serta sebagai tokoh otoriter yang sebenarnya juga menggunakan cara kekerasan (walau dalam bentuk berbeda) dalam “mendidik” siswanya. Bagi Durkheim, sekolah mempunyai fungsi yang sangat penting dan sangat khusus untuk menciptakan makhluk baru, yang dibentuk sesuai dengan kebutuhan masyarakat. (Emile Durkheim, L’education Morale ( Paris : Libraire Felix Alean, 1925), hal. 68. Untuk itu dibutuhkan sekali keselarasan antara harapan masyarakat dengan system pengajaran. Sekolah untuk lingkungan masyarakat militer harus berbeda dengan cara pengajaran di sekolah yang memperuntukkan anak didiknya untuk dunia industry. Namun, disamping itu semua hal yang paling penting dalam mengajar adalah menumbuhkan motivasi diri (self motivation) untuk belajar. Dengan ada keinginan sendiri untuk belajar bagi para siswa maka mereka akan bisa lebih focus terhadap pelajaran yang diberikan oleh pengajar.

*       Faktor lingkungan.
Lingkungan di antara rumah dan sekolah yang sehari-hari remaja alami, juga membawa dampak terhadap munculnya perkelahian. Misalnya lingkungan rumah yang sempit dan kumuh, dan anggota lingkungan yang berperilaku buruk (misalnya narkoba). Begitu pula sarana transportasi umum yang sering menomor-sekiankan pelajar. Juga lingkungan kota (bisa negara) yang penuh kekerasan. Semuanya itu dapat merangsang remaja untuk belajar sesuatu dari lingkungannya, dan kemudian reaksi emosional yang berkembang mendukung untuk munculnya perilaku berkelahi.
Lingkungan yang tidak menerima eksistensi para remaja juga menjadi slah satu faktor pemicu seorang pelajar atau remaj melakukan perbuatan-perbuatan anarki. Padahal pada usia remaja tersebut remaja dalam taraf pencarian jati diri, dan dibutuhkan sekali dukungan dan partisipasi warga masyarakat dilingkungan sekitar mereka berada. Hal itu bisa dilakukan dengan berbagai cara diantaranya mengadakan wadah organisasi pemuda, memberikan apresiasi terhadap remaja yang berprestasi, melibatkan remaja dalam berbagai kegiatan kemsyarakatan sampai dengan memberikan tanggung jawab yang lebih untuk menjadi panitia sebuah kegiatan yang diadakan oleh masyarakat. Hal-hal tersebut mungkin bisa diharapkan untuk meminimalisasi remaja untuk mencari kegiatan-kegiatan negative di luar lingkungan mereka atau dengan kata lain untuk meminimalisasi tawuran pelajar.

5.      Dampak atau akibat dari tawuran

*      Pertama, pelajar (dan keluarganya) yang terlibat perkelahian sendiri jelas mengalami dampak negatif pertama bila mengalami cedera atau bahkan tewas.

*       Kedua, rusaknya fasilitas umum seperti bus, halte dan fasilitas lainnya, serta fasilitas pribadi seperti kaca toko dan kendaraan.


*       Ketiga, terganggunya proses belajar di sekolah.

*       Terakhir, mungkin adalah yang paling dikhawatirkan para pendidik, adalah berkurangnya penghargaan siswa terhadap toleransi, perdamaian dan nilai-nilai hidup orang lain. Para pelajar itu belajar bahwa kekerasan adalah cara yang paling efektif untuk memecahkan masalah mereka, dan karenanya memilih untuk melakukan apa saja agar tujuannya tercapai. Akibat yang terakhir ini jelas memiliki konsekuensi jangka panjang terhadap kelangsungan hidup bermasyarakat di Indonesia.

6.      Upaya pencegahan perilaku menyimpang (tawuran)

*      Kegagalan mencapai identitas peran dan lemahnya  kontrol diri bisa dicegah atau diatasi dengan prinsip keteladanan.

*      Adanya motivasi dari keluarga, guru, teman sebaya untuk melakukan point pertama.

*      Kemauan orangtua untuk membenahi kondisi keluarga sehingga tercipta keluarga yang harmonis, komunikatif, dan nyaman bagi remaja

*      Remaja harus pandai memilih teman dan lingkungan yang baik serta orangtua memberi arahan dengan siapa dan di komunitas mana remaja harus bergaul

*      Remaja membentuk ketahanan diri agar tidak mudah terpengaruh jika ternyata teman sebaya atau komunitas yang ada tidak sesuai dengan harapan

BAB III
PENUTUP

A.     Kesimpulan

Salah satu penyimpangan sosial yang sering terjadi di lingkungan masyarakat umumnya ialah tindakan tawuran. Namun bisa dikatakan bahwa kenakalan remaja seperti halnya tawuran pelajar tidak bisa dikatakan bahwa semua aspek pendorong berasal dari internal mereka saja. Namun faktor lingkungan dimana mereka berada juga mempunyai andil besar dalam memicu seorang pelajar mencari pelampiasan-pelampiasan negatif. Seperti faktor keluarga yang dipenuhi oleh kekerasan orang tua, faktor sekolah yang kurang memperhatikan potensi anak-anak didiknya. Sampai faktor masyarakat yang senantiasa menyepelekan keberadaan mereka.
Untuk menindak lanjuti itu semua sebaiknya masyarakat yang meliputi keluarga, sekolah, dan masyarakat sadar betapa pentingnya mereka menjaga kestabilan remaja dengan memberi ruang yang cukup kepada mereka untuk berekspresi. Dengan hal-hal tersebut diharapkan masyarakat bisa meminimalisasi potensi-potensi yang ada guna menimbulkan remaja yang kreatif, aktif, produktif dan berpotensi menjadi generasi penerus yang baik.



B.     Saran
 Untuk menyikapi berbagai fenomena kenakalan remaja khususnya tawuran pelajar yang telah disampaikan diatas penulis memberikan beberapa saran sebagai berikut;
*      Sedari sekarang masyarakat harus sadar akan pentingnya peran mereka dalam membentuk lingkungan yang kondusif.

*       Keluarga sebagai elemen dasar sebuah bangunan pendidikan agar lebih aktif dalam memperhatikan anak-anaknya, pentingnya menciptakan demokratisasi dalam keluarga

*       Sekolah sebagai suatu lembaga pendidik seharusnya memperhatikan potensi-potensi dasar peserta didik untuk lebih meningkatkan daya kreativitas mereka.

*      . Adanya system penanganan yang lebih tepat apabila diketemukan tawuran pelajar.











                                                   Daftar pustaka

Raymond Tambunan, 2008. Perkelahian pelajar. Diambil : 12 oktober 2009, dari : 
http://informasi.psikolog.online.edu
Article, 2009. Tawuran Antar Pelajar. Diambil : 10 oktober 2009, dari : 
http://ifkarulya.wordpress.com/
Januari, 2009. Tawuran Pelajar. Diambil : 10 November 2009, dari : 
http://sobatbaru.blogspot.com/2009/01/ta…
Januari, 2009. Diambil : 22 januari 2010, dari : http://www.mizan.com/index.


           

                                                               

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar